Thursday, July 28, 2016

HOME INDUSTRI KRIPIK SINGKONG





Pagi yang cerah menjadi penyemangat perjalanan anggota kelompok KKN-17 hari ini, selasa (19/07). Perjalanan kami dimulai dari pukul 08.00 WIB dari arah Balai Desa Kasengan Kecamatan Manding menuju pabrik home industri kripik singkong yang khususnya berada di dusun Kasengan Tengah. Desa Kasengan memiliki tiga dusun, yakninya Dusun Oro, Dusun Kasengan Tengah, dan Dusun Larangan. Kami menyusuri persawahan yang terhampar luas dengan beberapa macam tanaman dan pepohonan yang tertata rapi di sepanjang perjalanan. Hampir seluruh petak sawah dimanfaatkan untuk ditanami tanaman, sehingga hampir seluruh buah-buahan ada di desa Kasengan ini. Sungai kecil dengan aliran air yang tenang membuat hati bahagia seakan tak ada beban yang kami emban.
Sekitar 20 menit menelusuri jalan yang penuh liku, kami sampai di tempat lokasi pabrik kripik singkong yang menjadi sasaran dari program kegiatan KKN 17. Kami disambut dengan ramah oleh pemilik usaha kripik singkong yaitu Bapak Syamrawi (61 tahun). Usaha kripik singkong dirintis selama 30 tahun oleh bapak Syamrawi yang mana beliau memiliki 5 orang pekerja yang ikut andil dalam pembuatan kripik singkong tersebut. Bapak Syamrawi memproduksi kripik singkong hanya sampai pada mentahan kripik singkong saja yang kemudian beliau jual. Produksi tidak sampai pada tahap pengemasan kripik singkong maupun pemberian macam rasa. Jenis kripik yang diproduksi oleh bapak Syamrawi hanya satu jenis yakni warna putih. Proses pembuatan kripik singkong putih ini lebih rumit dari kripik singkong kuning karena membutuhkan proses tambahan yakni kripik harus direndam selama dua hari kemudian dijemur baru melalui proses penggorengan. Namun walaupun lumayan rumit, Bapak Syamrawi tetap semangat dan mempertahankan usahanya karena usaha tersebut sangat membantu perekonomian keluarganya.



Bahan baku kripik singkong ini beliau import dari desa Ambunten Kecamatan Ambunten karena bagi beliau bahan baku singkong tersebut berkualitas bagus sehingga tidak merugikan bapak Syamrawi ketika diproses.  Produksi kripik singkong untuk setiap harinya bisa mencapai satu kwintal, dimana harga per kilogram sebesar Rp. 13.000. Bapak Syamrawi mengakui bahwa kendala dari produksi kripik singkong ini salah satunya yaitu ketika musim hujan, karena kripik membutuhkan cahaya matahari untuk proses penjemuran, sehingga pada musim hujan bapak Syamrawi tidak memproduksi kripik singkong karena jika tetap diproduksi akan menyebabkan kerugian. Hal inilah yang menyebabkan pemasukan dana beliau berkurang. Selain hal tersebut, dari segi pemasaran produk hanya dari mulut ke mulut saja, jadi tidak sampai dipasarkan melalui media baik media cetak maupun elektronik.


                                                                        Desa Kasengan, 19 Juli 2016

1 comment:

  1. Sangat insfiratif sekali! Semangat Indonesia...!!! Silahkan kunjungi situs saya! http://www.keripikku.com

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Flickr

Random Posts