Thursday, July 28, 2016

SILATURRAHMI DAN PRESENTASI PROGRAM KERJA KELOMPOK KKN-17 DI DESA KASENGAN


Hari yang indah ketika mentari memancarkan sinarnya dibalik tempat peraduan setelah selama 12 jam digantikan oleh rembulan. Ada kebahagiaan tersendiri saat manusia menjadi saksi dari keindahan tersebut. Begitupun yang dirasakan oleh anggota kelompok KKN-17, ada kebahagiaan dan keberuntungan tersendiri lantaran ditempatkan disebuah desa bernama Kasengan. Setelah mendapatkan penyambutan sederhana yang dipenuhi dengan nuansa keramahan oleh para aparatur desa dihari pertama KKN, hari kedua (15 juli 2016) adalah perkenalan secara formal oleh anggota KKN-17 kepada aparatur desa dan sekaligus presentasi program kerja terkait dengan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di desa Kasengan selama masa KKN.
Presentasi program dilakukan di kantor Balai Desa Kasengan yang dihadiri oleh sebagian besar aparatur desa diantaranya adalah Bapak Syamsul Huda selaku Sekretaris Desa Kasengan dan beberapa kepala bidang. Presentasi  dimulai dari jam 09.00 WIB  dengan nuansa kekeluargaan yang kental ditemani beberapa camilan khas lebaran yang dibawa oleh salah satu anggota kelompok KKN-17. Acara dimulai oleh Pak Samsul mewakili kepala desa yang saat itu berhalangan hadir dengan memperkenalkan jajarannya kemudian dilanjutkan dengan perkenalan oleh anggota kelompok KKN-17 satu persatu. Barulah kemudian Kordes (Koordinator Desa) menyampaikan program kerja.


Terdapat 4 program kerja unggulan yang harus dilaksanakan oleh kelompok KKN-17 selama masa bakti didesa Kasengan, diantaranya adalah pelatihan desain dan sablon kaos berbasis wisata, pelatihan packaging keripik singkong, pembukaan stand, dan pembinaan bahasa Inggris berorientasi wisata. Penyampaian program kerja tersebut langsung ditanggapi oleh aparatur desa yang hadir dengan memberikan pengarahan baik secara teknik maupun administratif. Diskusi antara aparatur dengan peserta KKN-17 terus berlanjut terkait pendidikan dan keadaan objektif Desa Kasengan yang kemudian diakhiri Pak Samsul dengan memberikan beberapa wejangan untuk peserta KKN agar bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Desa Kasengan.
Dari presentasi program tersebut terlihat kepuasan dan kebahagiaan dari raut wajah anggota kelompok KKN-17 lantaran respon posistif berupa bantuan koordinatif oleh aparatur desa yang akan memudahkan kelompok KKN-17 dalam merealisasikan program unggulannya. Akhirnya acara silaturrahmi dan presentasi program kerja tersebut dapat diselesaikan pada jam 11.00 WIB. Semoga silaturrahim yang telah terjalin dapat menjadi langkah awal yang baik bagi kelancaran program yang akan dilaksanakan oleh kelompok KKN-17 di Desa Kasengan.
                       

                                                                                    Desa Kasengan, 15 Juli 2016

HOME INDUSTRI KRIPIK SINGKONG





Pagi yang cerah menjadi penyemangat perjalanan anggota kelompok KKN-17 hari ini, selasa (19/07). Perjalanan kami dimulai dari pukul 08.00 WIB dari arah Balai Desa Kasengan Kecamatan Manding menuju pabrik home industri kripik singkong yang khususnya berada di dusun Kasengan Tengah. Desa Kasengan memiliki tiga dusun, yakninya Dusun Oro, Dusun Kasengan Tengah, dan Dusun Larangan. Kami menyusuri persawahan yang terhampar luas dengan beberapa macam tanaman dan pepohonan yang tertata rapi di sepanjang perjalanan. Hampir seluruh petak sawah dimanfaatkan untuk ditanami tanaman, sehingga hampir seluruh buah-buahan ada di desa Kasengan ini. Sungai kecil dengan aliran air yang tenang membuat hati bahagia seakan tak ada beban yang kami emban.
Sekitar 20 menit menelusuri jalan yang penuh liku, kami sampai di tempat lokasi pabrik kripik singkong yang menjadi sasaran dari program kegiatan KKN 17. Kami disambut dengan ramah oleh pemilik usaha kripik singkong yaitu Bapak Syamrawi (61 tahun). Usaha kripik singkong dirintis selama 30 tahun oleh bapak Syamrawi yang mana beliau memiliki 5 orang pekerja yang ikut andil dalam pembuatan kripik singkong tersebut. Bapak Syamrawi memproduksi kripik singkong hanya sampai pada mentahan kripik singkong saja yang kemudian beliau jual. Produksi tidak sampai pada tahap pengemasan kripik singkong maupun pemberian macam rasa. Jenis kripik yang diproduksi oleh bapak Syamrawi hanya satu jenis yakni warna putih. Proses pembuatan kripik singkong putih ini lebih rumit dari kripik singkong kuning karena membutuhkan proses tambahan yakni kripik harus direndam selama dua hari kemudian dijemur baru melalui proses penggorengan. Namun walaupun lumayan rumit, Bapak Syamrawi tetap semangat dan mempertahankan usahanya karena usaha tersebut sangat membantu perekonomian keluarganya.



Bahan baku kripik singkong ini beliau import dari desa Ambunten Kecamatan Ambunten karena bagi beliau bahan baku singkong tersebut berkualitas bagus sehingga tidak merugikan bapak Syamrawi ketika diproses.  Produksi kripik singkong untuk setiap harinya bisa mencapai satu kwintal, dimana harga per kilogram sebesar Rp. 13.000. Bapak Syamrawi mengakui bahwa kendala dari produksi kripik singkong ini salah satunya yaitu ketika musim hujan, karena kripik membutuhkan cahaya matahari untuk proses penjemuran, sehingga pada musim hujan bapak Syamrawi tidak memproduksi kripik singkong karena jika tetap diproduksi akan menyebabkan kerugian. Hal inilah yang menyebabkan pemasukan dana beliau berkurang. Selain hal tersebut, dari segi pemasaran produk hanya dari mulut ke mulut saja, jadi tidak sampai dipasarkan melalui media baik media cetak maupun elektronik.


                                                                        Desa Kasengan, 19 Juli 2016

Janji Suci KKN 17 dan Desa Kasengan



Matahari menampakkan diri dari peraduannya. Ia melingsut sesuai dengan peredaran waktu. Menunjukkan fenomena matahari terbit. Bulan besar itu menyusup diantara gerombolan awan-awan pagi. Menyisip diantara gedung-gedung tinggi kota besar. Sebuah mobil melaju di atas jalanan besar beraspal. Mobil berwarna silver itu menuju ke arah pelabuhan Tanjung Perak. Mengejar waktu untuk sampai ke tempat tujuannya, Universitas Trunojoyo Madura.
Terlihat guratan rasa resah pada dua mahasiswi dalam mobil tersebut. Mereka sedikit khawatir terlambat mengikuti upacara pembukaan pemberangkatan KKN. Salah satu mahasiswi dalam mobil tersebut adalah aku. Aku menumpang mobil temanku untuk berangkat menuju ke kampus unuk mengikuti upacara pemberangkatan KKN. Sesampainya disana, upacara sudah dimulai. Aku berada pada barisan belakang.
Pukul 10.30 WIB, kelompok KKN 17 memulai perjalanan ke Desa Kasengan, Kecamatan Manding, dan Kabupaten Sumenep. Kami menempuh perjalanan dalam kurun waktu kurang lebih 5 jam menuju ke Desa Kasengan. Sesampainya di Desa Kasengan, kelompok kami disambut dengan aparatur desa. Kelompok kami mendapatkan wejangan dari Bapak Syamsul Huda selaku sekeraris desa. Salah satu pesan beliau yang paling kuingat adalah rezeki tidak selalu berasal dari PNS. Allah SWT memberikan rezeki melalui berbagai jalan. Jadi, jangan terlalu mengejar kedudukan PNS.
Semua aparatur desa sangat hangat dan ramah saat menyambut kedatangan kami disini. Mereka sangat terbuka akan kedatangan kami. Hal itu membuat kami semakin bersemangat untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk Desa Kasengan ini. Sesuai dengan slogan yang kami buat siap bekerja, siap mengabdi. Semoga slogan itu akan terpatri dalam hati kami hingga akhir.  








KKN 17 Mengikuti Sosialisasi Mengenai Sanitasi di Desa Kasengan


Pagi hari sekitar jam 09.00 pagi (22/07) diadakan sosialisasi mengenai sanitasi yang diadakan oleh DPU Cipta Karya dan Tata Ruang Kab. Sumenep di Balai Desa Kasengan. Banyak warga yang mengikuti acara sosialisasi tersebut termasuk kelompok KKN 17 dari Universitas Trunojoyo Madura. Isi dari sosialisasi ini adalah menginformasikan ke warga Desa Kasengan mengenai lingkungan hidup dan sanitasi lingkungan, khususnya MCK. Di Desa Kasengan terbilang masih banyak warga yang belum mempunyai WC/ Kamar mandi untuk buang air besar. Dari informasi yang didapatkan warga masih banyak yang buang air di sungai atau langsung buang air besar di lingkungan rumah dengan menggali tanah lalu menutupnya setelah proses buang air besar selesai. Menurut DPU Cipta Karya, hal ini sangat tidak baik bagi kesehatan masyarakat sekitar dikarenakan limbah yang kita buang tersebut akan mencemari air sungai dan mencemari air tanah.
KKN 17 lalu memprogram kegiatan penanaman tanaman mangga dan jeruk di lingkungan Balai Desa untuk penghijauan sekaligus untuk turut serta menggalakkan program lingkungan hidup yang sering diadakan oleh BLH Kab. Sumenep.



Jalan-jalan Sehat dari Desa Kasengan ke lokasi WPS




            Minggu pagi (17/07) kami bersiap-siap untuk jalan-jalan sehat. Setelah bersih diri kami lalu berkumpul jam 06.00 pagi di depan balai desa untuk memulai perjalanan. Sepanjang jalan mata tak hentinya menatap keindahan yang disuguhkan alam, pagi yang indah dengan embun menyelimuti dedaunan. Kegiatan pagi itu dimulai dengan menulusuri  Desa Kasengan Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep. Keluarga KKN 17 melangkahkan kaki dengan berjalan sekitar 2 KM dari posko menuju salah satu tempat wisata yaitu Waterpark Sumekar (WPS). Waterpark ini terletak di Desa Kasengan, desa yang menjadi tempat tinggal kita selama 26 hari kedepan.





            Kelelahan pun terbayar saat mata sudah melihat patung kuda yang terpampang jelas di pintu masuk WPS. WPS adalah tempat rekreasi kebanggaan Sumenep, Madura. Sebab, baru Kab. Sumenep yang memiliki dan satu-satunya rekreasi yang berkonsep waterpark yang ada di Madura. Jadi maklumlah, bila hari libur pengunjung bisa sampai ribuan orang jumlahnya. Pengunjung itu datang dari kabupaten tetangga, seperti Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.


            Kami beristirahat sebentar di halaman depan WPS dan melanjutkan untuk diskusi perihal kegiatan setelah jalan-jalan sehat. Kami menikmati jalan-jalan sehat hari ini sebab kami juga bisa bertegur sapa dengan masyarakat sekitar Desa Kasengan.






Wednesday, July 20, 2016

Kerupuk Puli Khas Kasengan Sumenep



Wawancara dengan Bu Waris

Rabu pagi (20/7) kelompok KKN 17 dari Universitas Trunojoyo Madura mengunjungi home industri kerupuk puli. Home industri kerupuk puli yang ada di Desa Kasengan ini beralamat tepat di samping Balai Desa Kasengan, Kabupaten Sumenep. Kerupuk yang sedap dimakan bersama nasi ini sudah dikembangkan oleh Bu H. Waris sejak 16 tahun lamanya. Resep merupakan turun temurun. Perkembangan home industri di Desa Kasengan terbilang cukup baik, bahkan tetangga Bu Waris juga mengelola usaha pembuatan tahu yang berproduksi hampir setiap hari.
Kerupuk puli milik Bu Waris sudah dipasaran hampir di seluruh Kasengan dan bahkan sudah sampai ke Kota Sumenep, terakhir menurut informasi yang kami peroleh, kerupuk puli ini juga sudah ada permintaan dari Jakarta sebanyak 100 kg. Harga per kilo dibandrol Rp 16.000. Sehari Bu Waris bisa membuat kerupuk puli 50 kg.  Proses pembuatan kerupuk puli juga tidak terlalu sulit. Hanya dengan bahan baku tepung terigu tapioka dan rempah-rempah secukupnya, kita bisa membuat kerupuk puli bikinan sendiri. Kendala yang sering dihadapai dalam usaha ini adalah cuaca yang tidak menentu. Sebab, diperlukan cahaya matahari untuk proses penjemuran yang kemudian baru bisa dilanjutkan ke proses terakhir penggorengan.

Kerupuk Puli masih mentahan


Pemasaran yang dilakukan oleh Bu Waris masih terbilang biasa, dari mulut ke mulut. Bu Waris tidak menggunakan media internet dan juga tidak merambah ke pasar yang lebih besar karena terkendala tenaga kerja. Bu Waris hanya memperkerjakan 2-3 orang untuk membantu proses pembuatan kerupuk puli. Bu Waris bisa setiap hari berproduksi untuk membuat kerupuk puli, selain usaha ini sebagai pekerjaan sampingan, Bu Waris juga bekerja sebagai guru di sebuah R.A di Desa Kasengan, Sumenep.

Foto bersama dengan bu Waris

Home Industri Keripik Singkong Dua Putri, Kasengan, Sumenep

Wawancara dengan Bapak Sakir

                Sebanyak lima orang anggota kelompok KKN 17 dari Universitas Trunojoyo Madura mengunjungi usaha rumahan Keripik Singkong Dua Putri milik Pak Sakir yang beralamat di Desa Kasengan Tengah. Usaha keripik singkong ini sudah dijalankan oleh pak Sakir selama 8 tahun lamanya, tepatnya dimulai bulan Desember 2007. Pak Sakir mendapatkan bahan baku dari pengepul di Kasengan. Bahan baku yang digunakan bukan singkong lokal, sebab kualitas singkong lokal belum sebaik singkong yang disambung, seperti singkong Banyuwangi.
                Usaha Keripik Singkong Dua Putri juga pernah mengalami naik turun. Dulu, Pak Sakir pernah menjual keripik mentahan, namun sepi pelanggan. Konsumen tidak sebaik keripik singkong yang sudah digoreng. Dan sekarang, Pak Sakir hanya menjual keripik singkong yang sudah siap konsumsi dan dikemas langsung oleh Pak Sakir. Harga dibandrol mulai Rp 500 – Rp 5.000. Pak Sakir memperkerjakan 2-3 orang untuk usaha keripik singkong beliau. Selama dua kali seminggu Pak Sakir rutin produksi sebab permintaan dari pelanggan cukup banyak.

Keripik Singkong Dua Putri usaha rumahan milik Pak Sakir

                Kendala yang dialami dalam usaha ini dari segi bahan baku dan juga pemasaran. Kurangnya bahan baku kualitas baik, membuat Pak Sakir kadang memilih untuk menggunakan singkong lokal yang bertekstur keras, tidak serenyah singkong kualitas baik (singkong sambung –red.) sehingga pelanggan kadang mengeluh dan menurunkan tingkat konsumsi dalam masyarakat. Dari segi pemasaran, Pak Sakir kurang jaringan komunikasi dengan para pemilik usaha lain. Sehingga, produksi keripik singkong Pak Sakir baru tersebar di Pulau Madura saja.
Selain memiliki usaha keripik singkong, Pak Sakir juga memiliki usaha sampingan yakninya usaha itik petelur sebanyak 100 ekor. Dalam sehari, itik petelur Pak Sakir bisa memproduksi 90 butir telur yang dihargai Rp 1.800/butir. Usaha sampingan ini sudah dimulai sejak tiga tahun yang lalu.

Pak Sakir memiliki usaha sampingan lain yakninya beternak itik petelur


Info pemesanan Keripik Singkong Dua Putri khas Desa Kasengan, Kec. Manding, Sumenep:
Pak Sakir : 0823 3377 4679 (AS) dan 0819 3492 0759 (XL)

Powered by Blogger.

Flickr

Random Posts